Kamis, 05 September 2013

Kisah Legenda baru klinting

Alkisah di jaman dahulu kala, di
Pulau Majeti ada seorang pertapa
bernama Sang Aji Saka, dengan
didampingi empat orang sahabatnya
yaitu bernama: Dugo, Dora, Prayoga,
Sembada. Terdorong oleh keinginan
yang membara Sang Aji Saka ingin
pergi ke pulau Angejawi (Jawa)
dengan diikuti tiga sahabatnya Dugo,
Prayoga dan Dora. Sedangkan
Sembada ditugaskan di pertapaan
menunggu keris pusaka Sang Aji
Saka.
Pesan Sang Aji Saka kepada
Sembada: sepergi saya ke pulau
Jawa, siapapun orangnya tidak boleh
mengambil keris pusaka, kecuali
Sang Aji Saka sendiri. Dan Sembada
teguh memegang pesan dan janji
sebagaimana yang diamanatkan oleh
Sang Aji Saka. Perjalanan Sang Aji
Saka sampai di Pulau Jawa. Pada
waktu itu keadaan di pulau Jawa
sedang terjadi malapetaka dan huru-
hara, karma adanya seorang raja dari
negara Medang Kamolan yang
berjejuluk Prabu Dewata Cengkar,
yang tak henti-hentinya memakan
daging manusia laki-laki.
Sehingga kehidupan masyarakat di
pulau Jawa semakin gonjang-ganjing,
dan masyarakatnya banyak yang
mengungsi ke hutan-hutan dan
gunung-gunung untuk
menyelamatkan jiwa raganya.
Konon perjalanan Sang Aji Saka
sampai di Pulau Jawa dan sudah
berada di Kerajaan Medang Kamolan
dan menginap di rumah seorang
janda yang terkenal.
Kala itu Prabu Dewata Cengkar
dengan seluruh punggawanya sampai
di rumah janda cantik. Dan langsung
rumah janda itu didobraknya.
Perasaan janda sangat takut bukan
kepalang, jangan-jangan sudah tahu
kalau Sang Aji Saka menginap di
rumahnya akan dimakannya. Kala itu
Sang Aji Saka, maju perlahan-lahan
dengan tenangnya menemui Prabu
Dewata Cengkar dan menyambutnya
dengan salam kehormatan. Seketika
itu pula Prabu Dewata Cengkar
dengan suara gemuruh menyuruhnya
Sang Aji Saka untuk pulang ke Pulau
Majeti, bila tidak mau pulang akan
dimakan hari ini juga. Ternyata Sang
Aji Saka tidak mau pulang dan siap
menerima untuk dimakan oleh Prabu
Dewata Cengkar.
Dengan muram Prabu Dewata Cengkar
melihat Aji Saka langsung pulang ke
Istana Negara Medang Kamolan, dan
para prajurit serta hulubalang segera
menangkap Aji Saka untuk dibawa ke
Medang Kamolan untuk diproses
kematiannya. Sebelum Aji Saka
dimakannya, terlebih dahulu
diberinya kesempatan, Aji Saka untuk
menyampaikan sesuatu, karena Prabu
Dewata Cengkar masih menghormati
bahwa Aji Saka adalah seorang
pertapa. Sang Aji Saka hanya
meminta secuil tanah seluas destar
(udeng) yang dipakai Aji Saka.
Jawab Sang Prabu dengan kerasnya:
“Untuk apa secuil tanah tersebut?”.
Jawab Aji Saka: “Akan dibuatnya
lobang, yang nantinya untuk
menimbun tulang-tulang yang
tersisa” . Permintaan Aji Saka, tanah
yang seluas destar itu harus berada
di halaman alun-alun kerajaan yang
berdekatan dengan pesisir lautan.
Keesokan harinya sekitar pukul 06.00
diadakan upacara kehormatan atas
terkabulnya permintaan Aji Saka. Kala
itu Aji Saka melepas destarnya dan
diletakkan di halaman alun-alun,
sedangkan Prabu Dewata Cengkar
tidak boleh menyentuh destar
tersebut. Aneh dan ajaibnya setelah
destar diletakkan di alun-alun, destar
tersebut semakin meluas dan melebar
dan semakin berkembang. Apa yang
hendak dikata, melebar dan
meluasnya ‘Destar/Udengnya Sang Aji
Saka’, Prabu Dewata Cengkar semakin
terdesak oleh destar tersebut,
sehingga seluruh tubuh Prabu Dewata
Cengkar tercebur ke dalam samudra
selatan atau Segara Kidul. Eloknya
keadaan tubuh sang prabu dewata
cengkar berubah menjadi “Seekor
Buaya Putih”, orang jawa menyebut
“Bajul Putih”, dan menyatu dengan
buaya-buaya putih yang jumlahnya
ribuan. Dan Buaya Putih Prabu
Dewata Cengkar diangkat menjadi
rajanya.
Dulu menjadi raja manusia, sekarang
menjadi raja buaya, kala itu Sang Aji
Saka hanya termenung melihat
kejadian alam di dalam samudra
kidul. Sewaktu Sang Aji Saka
berjalan-jalan dipinggir pantai segara
kidul di sebelah alun-alun Kerajaan
Medang Kamolan, tanpa ada tanda-
tanda, menyeranglah Bajul Putih
dengan dahsyatnya dan terjadilah
peperangan hebat dengan Aji Saka.
Bajul Putih merasa tidak dapat
mengimbangi kekuatan sang Aji Saka,
segera seluruh bajul putih yang
ribuan jumlahnya untuk mengeroyok
Sang Saka. Seluruh buaya dapat
dikalahkan dengan sekejap, yang
masih hidup karena ketakutan banyak
yang masuk ke dalam samudra
kembali. Buaya-buaya putih yang
sudah berbangkai ditumpuk
sepanjang pantai dan diberinya nama
Gunung Kapur Selatan. Kemenangan
Sang Aji Saka menjadi kebanggaan
seluruh rakyat Medang Kamolan,
rakyat yang dulu takut dan sedih kini
menjadi gembira dan merasa aman.
Rakyat yang berlindung di hutan-
hutan dan di gunung-gunung kini
pulang ke kampung halamannya dan
bertemu dengan sanak keluarganya.
Dan Sang Aji Saka dinobatkan
menjadi raja di Negara Medang
Kamolan.
Gelar yang diberikan adalah “SANG
MAHA PRABU AJI SAKA” Prabu Aji
Saka memerintah dengan arif
bijaksana, hambeg para amarta,
dilengkapi dengan sabda pandita raja
dan teguh memegang pusaraning
keadilan. Damailah rakyat Medang
Kamolan. Tepat pada hari Respati
manis Sang Prabu Aji Saka menggelar
Pasewakan agung yang dihadiri
lengkap para menteri bupati dan
brahmana serta senapati perang
kerajaan Medang Kamolan. Tak
ketinggalan pula sahabat kinasihnya
yaitu Duga, Prayoga, dan Dora.
Setelah memberikan ajaran-ajaran
dan petunjuk kesegenap yang hadir
di Pasewakan, Sang Prabu Aji Saka
memerintahkan kepada Dora untuk
berangkat ke Majeti untuk mengambil
keris pusaka di pertapaan untuk
dibawa pulang ke Medang Kamolan
sebagai pusaka kerajaan. Tanpa
meniawab sepatahpun, Dora mohon
pamit dan langsung berangkat ke
Majeti untuk menemui sahabatnya
Sembada.
Sesampainya di pulau Majeti, Dora
bertemu dengan Sembada yang sudah
sudah lama berpisah dan kala itu
juga saling melepas rasa
kerinduannya. Selanjutnya Dora
menyampaikan seluruh pesan
Sang Prabu Aji Saka tanpa ada yang
tertinggal, terutama tentang tugasnya
untuk mengambil keris di pertapaan.
Sembada merasa kaget mendengar
keris akan diambil oleh Dora karena
sepengetahuannya Sang Aji Saka
sendirilah yang akan mengambil
keris tersebut. Maka bersikukuhlah
Sembada tidak akan memberikan keris
kepada Dora. Terjadilah pertengkaran
mulut diantara keduanya dan
berlanjut pada pertempuran fisik.
Akhirnya mereka berdua mati bersama
dalam pertempuran sengit tersebut.
Kematian ini oleh orang jawa disebut
sebagai “‘mati sampyuh “.
Suasana alam perti berkabung,
matahari tidak mengeluarkan sinar
dibarengi dengan hujan gerimis kecil
putih-putih. Kala itu juga Sang Aji
Saka keluar dari istana, menatap
langit, samodra kidul dan memanggil
para brahmana untuk bersantiaji
Keprabon. Di malam harinya Sang
Prabu Aji Saka mendapat ilham Ha,
Na, Ca, Ra, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa,
Dha, Ja, Va, Nya, Ma, Ga, Ba, Tha,
Nga, Sampai sekarang di jaman
modern seperti sekarang ini, kita
orang Jawa harus selalu berfilsafat
dengan ajaran: Ha, Na, Ca, Ra, Ka,
dst … yang berarti, apakah yang kita
ketahui tentang Ha,Na,Ca … dst
sebagai konsep atau idea ajaran
kearifan orang jawa yang bersumber
dari karya susastra jawa yang
berlandaskan dengan keluhuran Cipta,
Rasa, Karsa, Budi, Karya yang
menjelma kedalam konsep pakarti
berketahanan “Budaya Bangsa”.
Sehingga orang suku Jawa yang
rnenyebar di seluruh pelosok tanah
air jangan sampai meninggalkan
warisan leluhurnya.
Setelah sang prabu membeberkan
tentang ilham tersebut ke seluruh
yang hadir di pasewakan, sang maha
prabu mengajak seluruh punggawa
kerajaan untuk berinkognito (turba)
atau turun ke desa-desa. Dengan
warna baru sang prabu melihat
kerajaan Mendang Kamolan yang
ternyata keadaan negaranya “panjang
punjung, pasir wukir, gemah ripah loh
jinawi, karta tata tur
raharja”. Matahari terus bergulir
menuju kodrati-Nya hari semakin
sore, setelah istirahat sejenak, di kala
itu segera Sang Prabu Aji Saka
memerintahkan ke segenap yang ada
di situasi itu untuk membuat tenda-
tenda alami (bivoac) yang terbuat
dari daun-daun, dan dari kayu yang
alami untuk beristirahat untuk
persiapan tenaga di esok harinya.
Saat para hulubalang beristirahat
total, di sore harinya Sang Prabu Aji
Saka berkelana seorang diri sambil
menikmati udara sore menatap
cakrawala yang terselubung mendung
tipis serta ditutupi kabut gerimis
seperti salju semakin meresap ke
sumsum tulang.
Sambil menikmati keindahan alam di
Negara Medang Kamolan sampailah
posisi Sang Prabu Aji Saka di desa
yang paling terpencil hampir
berdekatan di pinggir hutan, sayup-
sayup terdengar lantunan lesung
yang jumengglung yang kadang kala
diiringi bertenggernya ayam jantan.
Hati Sang Prabu semakin penasaran
ingin mencari dimana tempat suara
itu berada. Ternyata dilihatnya bahwa
lesung itu ternyata seorang wanita
cantik sedang menumbuk padi di
gubuk belakang rumahnya, yang
didampingi seekor ayam jantan. Sang
Prabu Aji Saka semakin mendekat dan
diintainya wanita penumbuk padi itu
dari sela-sela lobang dinding bambu
yang sudah setengah reot itu.
Dengan asyiknya wanita cantik itu
menumbuk padi dan secara diam-
diam Sang Prabhu Aji Saka melihat
dan mengamati dari dekat wanita
tersebut dan ternyata wanita ini
memiliki kecantikan yang luar biasa
bagaikan dewi dari kahyangan. Begitu
sang Prabhu Aji Saka melihat
kecantikan wanita ini, maka munculah
perasaan cinta yang tidak bisa
tertahankan, dan pada akhirnya
secara tidak sengaja Sang Prabhu Aji
Saka mengeluarkan cairan dari
tubuhnya yang membasahi tanah
setempat.
Sang Prabu Aji Saka perlahan-lahan
beranjak dari tempatnya berada,
sambil melangkah dengan perasaan
berat untuk meninggalkan tempat itu,
kemudian sang prabu memberi kode
aji saka yang digoreskan pada
dinding bambu. Dan meninggalkan
tempat tersebut, sebagai kenangan
tempat wanita cantik yang menumbuk
padi.
Sepeninggal Sang Aji Saka dari
tempat itu, wanita cantik penumbuk
padi tidak mengetahui kejadian di
lingkungan lesung tersebut, kecuali si
ayam jagonya yang menggodanya,
maka dipukullah ayam jago itu
dengan tangkai padi oleh sang prabu,
sambil melompat setengah terbang si
ayam jago bersuara keeoooook, jatuh
tepat di tempat Sang Prabhu Aji Saka
sewaktu mengintip wanita cantik
penumbuk padi. Anehnya si ayam
jago melihat sebutir putih seperti
beras itu lalu dipatuknya kemudian
ditelannya dan kembali lagi ke
lesung.
Dan disaat yang bersamaan wanita
cantik ini berkemas-kemas akan
meninggalkan tempatnya menumbuk
padi. Sang putri masuk ke rumahnya
dan langsung menuju ke
pedharingan/genthong tempat
menyimpan beras, setelah selesai
pergilah sang putri ke sumur untuk
mandi, dan kala itu bersamaan si
ayam jago masuk ke dalam kandang,
memang waktu itu hari sudah masuk
ke saat senja menjelang malam.
Matahari sudah masuk ke cakrawala
dan malam telah mengganti suasana
waktu. Dengan bergesernya waktu,
kala semakin malam sang putri mulai
tidur, namun tidak dapat memejamkan
mata (tidur-tidur ayam) entah apa
yang terjadi sepertinya ada sesuatu
yang tidak dapat diterjemahkan.
Semakin gaduh perasaan sang putri
terdengarlah bertenggernya si ayam
jago yang melengkapi semakin
risaunya emosi sang putri. Si ayam
jago semakin berulang-ulang
bertengger dan terdengarlah
bertenggernya si ayam jago dengan
suara ngungkung lenturan panjang
sepertinya dengan disertai seluruh
tenaganya.
Dengan perasaan semakin gusar
bangunlah sang putri dari tempat
tidurnya dan keluar mengambil
segenggam daun kelapa kering dan
disulutnya ujung daun kelapa itu.
Perlahan sang putri menuju kandang
ayam jagonya, ternyata si jago tidak
lagi berada pada tempat pagakan/
pangkringannya tetapi berada di
tanah dengan keadaan “Ndekem”.
Terkejut hati sang putri lalu di
ambilnya si ayam jago dan diletakkan
di pagakan tempat tidurnya. Anehnya
selesainya sang putri meletakkan
kembali si jago ke pagakan, ternyata
tempat ndekemnya si ayam jago tadi
ada sebutir telur putih besar lonjong
sebesar telur angsa.
Dengan hati senang campur iba, aneh
tapi nyata. Unik dan menarik
dibawanva telur pulang dan
dimasukkan ke dalam genthong
tempat menyimpan beras. Tujuh hari
kemudian, saat sang putri mengambil
beras untuk ditanak, tangan sang
putri menyentuh sesuatu dan sang
putri tanpa rasa takut sama sekali,
malah dibelai dengan mesranya.
Dengan perasaan iba sang putri
melihatnya, ternyata seekor ular sowo
kembang yang berbau wangi, dengan
rasa cinta diambilnya ular itu di
pinang dan dibawa ke tempat
tidurnya. Sang putripun tidak jadi
untuk menanak nasi, seolah sudah
merasa kenyang. Di manja, dipeluk,
dan diciumnya, si sowo kembang
dengan tak henti-hentinya seolah
seperti sang bayi yang baru lahir dari
kandungan sang putri.
Di pagi hari si sowo kembang, ingin
keluar untuk melihat suasana dan
diikuti oleh sang putri sebagai
pengganti ibunya. Sampailah sowo
kembang di tempat lesung dan
bermain-main seolah-olah ada
sesuatu bagi dirinya. Kala itu sowo
kembang tidak mau pindah dari
dinding reot, dan di tempat itulah si
sowo kembang dapat berbicara
layaknya manusia, dan bertanyalah si
sowo kembang kepada sang putri.
Semula mau melontarkan pertanyaan
ini agak termangu-mangu, tetapi
terdorong rasa yang kuat akhirnya
terlontarlah sebuah pertanyaan
dengan nada yang datar, “Sang putri,
siapakah sebenarnya ayahku ini?”.
Dengan menoleh ke dinding reot itu
sang putri menjawab, wahai ular
sawo kembang yang perkasa, ayahmu
adalah seorang pertapa agung, di
gunung urung-urung yang bernama
AJI SAKA, yang sebenarnya petapa
dan juga adalah seorang raja. Dengan
tanpa dipikir panjang si sowo
kembang langsung mohon doa restu
untuk menuju ke gunung urung-
urung seketika di lingkungan
pertapaan berbau wangi, dan terkejut
hati sang Aji Saka.
Dengan tanpa menunggu waktu lama
datanglah si sowo kembang
menghadap sang maha muni, dengan
menghaturkan sembah sungkem,
bersamaan itu pula keluarlah suara
bernada geram Sang Aji Saka,
“Siapakah kamu ini?”. Jawab Sowo
Kembang: “Saya diperintah oleh ibu
penumbuk padi untuk datang kesini,
sebab sang pertapa adalah ayahku”.
Mendengar putri penumbuk padi
terkejutlah sang Aji Saka dan teringat
terhadap peristiwa lamanya. Jadi
kedatanganmu kesini sebenarnya mau
apa? Kedatangan saya kesini adalah:
1. Dengan hormat, Sang Pertapa
untuk memberiku sebuah nama,
agar aku senang dengan nama
itu.
2. Sang Pertapa berkenan untuk
mengakui bahwa hamba adalah
keturunan dari sang maha muni.
Sang Aji Saka memegang leher sowo
kembang dan dikalungkannya sebuah
klinthing dan diberilah nama “NAGA
BARU KLINTHING”, dan bersabdalah
sang wiku “asma kinarya japa”. Dan
si Naga Baru Klinthing akan diakui
sebagai anak apabila tubuhnya dapat
melingkari gunung urung-urung ini
dengan tuntas, artinya kepala dan
ekornya dapat bertemu menjadi satu
(jawa: tepung gelang). Dengan
bangga berangkatlah Naga Baru
Klinthing setelah mohon doa restu
untuk melingkari gunung urung-
urung tersebut. Dengan penuh
perjuangan untuk melingkari gunung
urung-urung ternyata setelah di
depan Sang Aji Saka bertapa ternyata
Naga Baru Klinthing tidak dapat
mempertemukan antara ekor dan
kepalanya. Dengan cerdiknya Naga
Baru Klinthing menjulurkan lidahnya
dan ternyata dapat berhasil. tapi apa
yang terjadi. begitu Sang Aji Saka
melihatnya, seketika diambilnya keris
yang ampuh langsung dipenggalah
lidah si Naga Baru Klinthing dan
putus seketika.
Potongan lidah Naga Baru Klinthing
melesat ke angkasa dan suara alam
mengiringi dengan tanda gaib yang
mengerikan. Naga Baru Klinthing
setelah terpenggal lidahnya, tubuhnya
bergerak di dalam tanah di sekitar
gunung urung-urung yang akhirnya
tanah menjadi gundhukan (bukit
kecil) dan langsung di malam itu
diiringi oleh suara halilintar serta
kilat thathit yang mengerikan,
bersamaan suara guruh di angkasa
yang mencekam, dari jauh suara
gelombang tsunami samudra yang
seolah menggulung jagad. Sirepnya
suara alam yang mengerikan tadi,
hadirlah “MANUSIA BAJANG” , (jawa
bocah bajang, bocah kerdil) akan
berkelana di sekitar desa.
Konon masyarakat desa tersebut akan
merayakan hari bersih dusun, dan
beramai-ramailah masyarakat dusun
untuk membersihkan halaman rumah
dan lorong-lorong jalan, serta
lingkungan gundhukan tanah yang
dekat dengan jalan itupun diratakan
agar tidak menutupi jalan. Saat
seorang pekerja yang menebang kayu
di sekitar gunung urung-urung,
memecok akar kayu keluarlah darah
yang memancar, dan terkejutlah
orang-orang di dekatnya. Kala itu
membuat penasaran seluruh orang-
orang yang bekerja gotong royong
tersebut. Dan dibongkarlah seluruh
gundhukan tanah yang melingkar,
ternyata daging binatang besar.
Tidak berpikir panjang di potong-
potonglah daging tersebut untuk
dibawa ke rumah masing-masing
persiapan untuk pesta di hari bersih
dusun. Masyarakat sangat senang
hatinya karena diacara bersih dusun
kali ini, lauk pauknya dengan
serentak menggunakan daging. Di
saat masyarakat memasak daging
didatangi oleh manusia bajang, dari
rumah ke rumah, yang dengan
sengaja meminta makan lengkap
dengan lauk pauknya. Ternyata tidak
satu keluargapun yang mau memberi
makan kepada si bocah bajang
tersebut, bahkan diusirnya. Berjalan
dengan tenanglah bocah bajang dari
rumah ke rumah, dan sampailah ke
rumah yang berada di sudut desa
terpencil tepatnya di pinggir desa di
sela-sela hutan kecil dan rawa-rawa.
Dialah si janda tua renta, dalam
gubuk kecil yang rajin dan bersih
dipagari dengan bunga-bunga indah
juga terhiasi oleh kukusnya dupa
sesaji. Janda tua sedang memasak
daging yang nantinya akan dibawa
untuk bersih dusun, datanglah bocah
bajang meminta makan lengkap
dengan lauk pauknya.
Dengan lahapnya nasi dihabiskan, tak
sepotong dagingpun ada yang
dimakannya, dan ditinggalkan di
dalam piring sambil berpesan,
bersiap-siaplah sang nenek dengan
enthong yang bertangkai panjang
serta lesung yang nanti akan besar
manfaatnya. Bersama kata akhir itu
menghilanglah si bocah bajang
tersebut. Si nenek tua merenung
sebentar, sebenarnya si nenek adalah
wanita ahli bersemedi, langsung
mohon kepada Yang Maha Kuasa agar
diberinya perlindungan. Di waktu itu
malam sudah berlalu, di pagi harinya
seluruh masyarakat mulai berkumpul
di balai dusun untuk melaksanakan
upacara bersih dusun, lengkap
dengan sesaji, makanan serta pauk
pauknya.
Dikala ujub kenduri sedang
berlangsung, datanglah si bocah
bajang dengan suara lantang
“Hentikan dulu ujub kenduri ini”,
sebab akan diberinya sebuah
sayembara untuk memeriahkan acara
bersih dusun tersebut. Sayembaranya
adalah: “barang siapa yang dapat
mencabut lidi yang saya tancapkan di
halaman balai dusun ini, saya
bersedia untuk dipotong-potong
badannya, tetapi bila tidak dapat
mencabutnya seluruh masakan
daging ini akan saya rampas semua
tanpa terkecuali”.
Masyarakat yang sedang
melaksanakan kenduri bersih dusun
menjadi berang dan marah mendengar
sayembara si bocah bajang tersebut.
Keluarlah seluruh masyarakat yang
sedang berpesta pora ke halaman
balai dusun, dan melingkari si bocah
bajang berusaha untuk mencabut lidi
yang ditancapkannya. Setelah satu
persatu mencabut, tak ada yang
berhasil juga. Akhirnya
berkelompoklah masyarakat untuk
mencabut lidi yang tertancab. namun
hasilnya pun sia-sia. Dengan
serentak masyarakat menyuruhnya si
bocah bajang untuk segera mencabut
lidi yang tertancap. Perasaan haru
bercampur gundah, dengan tangan
kirinya lidi itu dipegangnya. Wajah
menatap ke langit, sambil mengucap
doa pelan-pelan lidi itu dicabutnya.
Tercabutlah lidi itu, dan seketika
keluarlah sumber air yang jernih
mengalir kearah barat. Seluruh
masyarakat menjadi malu hati, karena
melihat berhasilnya si bocah bajang
mencabut lidi itu. Akhirnya
dikeroyoklah bocah bajang, dan
larilah perlahan meninggalkan
halaman balai dusun. Semakin
dikeroyok semakin banjir pula sumber
air tersebut. Dengan banjirnya air dari
sumber mata air yang ajaib ini,
seolah “BANJIR BANDANG, DAN
BANYAK MANUSIA YANG
TENGGELAM”, menjadi korban, yang
masih hidup berteriak minta tolong.
Kala itu pula si bocah bajang
menghilang dari permukaan, dan akan
rnenyatu dengan lidah Naga Baru
Klinthing yang melesat ke angkasa,
bersama itu pula hilangnya lauk pauk
entah kemana. Hanya janda tua yang
tempo hari memberi makan kepada si
bocah bajang yang selamat karena
menuruti pesannya untuk naik lesung
dengan berdayung enthong sambil
menanti surutnya air bah.
Ternyata setelah air banjir surut
lesung berhenti di sebelah sumber
mata air, dan si nenek tua
menamakan sumber mata air tersebut
“SUMBER BARU KLINTHING” dan
terkenal sampai sekarang legendanya
di Dusun Bunut, Desa Bringin,
Kecamatan Pare Kabupaten Kediri,
PropinsiJawa Timur.
  Sekian dariku tentang kisah legenda
  Batu klinting ini,sekian para    perpriksa dan terima kasih atas kunjungan ada di laman ini
     KATENU-DUMAI.BLOGSPOT.COM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar